Diambil dari facebook Dini Wisaksono.
Hypotonus adalah diagnosa umum, yg acapkali disalahartikan. Pada postingan kali ini saya berharap mampu memberikan pemahaman tentang congenital hypotonus (hypotonus bawaan) dengan memberikan gambaran bagi keluarga atau orang yg merawat anak dengan hypotonus dan juga bagi tenaga kesehatan yg menanganinya.
Diagnosa hypotonus/tonus otot lemah sering digunakan untuk mendeskripsikan beberapa kemungkinan yg terdpt di dalamnya. hypotonus bisa saja terlihat tidak serius atau serius yg kemudian mempengaruhi kontrol motorik. Mengenali hypotonus bahkan pd masa awal kelahiran bayi, relatif sangat mudah, tapi mendiagnosa penyebabnya tidaklah demikian.
Efek jangka panjang pd hypotonus terhadap tumbuh kembang anak tergantung pd tingkat keparahan hypotonus, sama halnya dengan sifat etiology yg melatarbelakanginya. Beberapa kelainan memang membutuhkan rawatan medis, namun rawatan untuk hampir sebagian anak dengan hypotonus bawaan sebenarnya adalah fisio terapi dan okupasi terapi.
Tanda dan gejala hypotonus
-sulit menjaga kontrol kepala
-sulit duduk tegak tanpa bersandar atau tanpa ada sokongan.
-lamban mencapai tumbuh kembang motorik.
-sulit berpindah dari posisi awal ke posisi berikut.
-nampak ceroboh atau nampak pola gerak yg tidak efisien.
-global delay development.
-mengalami kesulitan pd koordinasi mata dan tangan.
-lebih memilih untuk mengobservasi daripd berpartisipasi.
-rasa toleransi frustasi yg rendah terhadap kegiatan yg menantang secara fisik.
Pembeda diagnosa
Sangat penting untuk menentukan potensi etiology yg melatarbelakangi yg bisa nampak pd kasus hypotonus. Beberapa kondisi berikut ini membutuhkan lebih banyak intervensi medis.
1. Riwayat kondisi pasien dan keluarga secara detail:
-kehamilan secara detaik, proses kelahiran, dan masa sesudah dilahirkan sangatlah membantu diagnosa. Riwayat keluarga apa pun yg menunjukkan gejala hypotonus juga amat penting.
2. Penilaian tumbuh kembang
Untuk memahami capaian tumbuh kembang motorik dan implikasinya pd tumbuh kembang fisik anak, sosial dan emosi anak.
3. Tes fisik
Termasuk tonus otot, reflek neurologis, kekuatan otot, kontrol postural, laxity sendi, respons protektif dan reaksi equilibrium/righting.
Kekuatan Otot vs Tonus Otot
Setiap otot di tubuh kita memiliki tonus otot. Tonus otot didefinisikaan sebagai kemampuan potensial otot untuk merespon atau menahan tekanan dari luar, rentangan atau perubahan arah gerak. Tonus otot yg sesuai akan merespon cepat terhadap tekanan dari luar baik melalui respon keseimbangan, reaksi righting atau reaksi protektif. Tonus juga membuat otot anak cepat relax saat perubahan yg ia terima tak ada lagi. Anak dengan hypotonus memiliki otot yg lamban untuk memulai kontraksi terhadap tekanan dari luar dan tak mampu mempertahankan kontraksi otot yg berkepanjangan.
Kekuatan otot merujuk pd kemampuan otot untuk secara aktif berkontraksi dan menciptakan daya untuk merespon terhadap resistensi (tarikan, dorongan, dan saat diangkat, etc). Walaupun kekuatan dan tonus berbeda, saat otot tak berada pd posisi ideal untuk kontraksi maka kekuatan otot akan terpengaruh.
Hypotonus dapat pula nampak sebagai suatu gangguan pada:
-proses sensori, di mana sistem vestibular, proprioceptive dan taktil gagal untuk memberikan sinyal pd otak tentang perubahan posisi tubuh.
-praxis atau perencanaan gerak, yg mana tubuh tak mampu untuk memformulasikan respon motorik yg sesuai.
-keseimbangan, dengan tubuh tak mampu mempertahankan aktifasi yg bersamaan pd sekelompok otot untuk melawan gravitasi baik secara statis maupun dinamis.
-koordinasi, dengan sulitnya mengkoordinasikan gerakan tubuh atas dan bawah atau sistem visual untuk memproduksi cairan/fluid dan gerakan yg efisien.
Hypotonus pada pertumbuhan anak:
1. Bayi baru lahir dan bayi:
Akan menunjukkan kontrol kepala yg tidak baik. Bayi akan terlihat terlepas dari genggaman tangan anda dan memiliki kesulitan menegakkan tubuhnya saat anda menggendongnya. Saat terlentang, bayi hypitonus akan meletakkan lengannya dan kakinya terkulai ke arah luar menjauhi tubuh dan kadang menolak menumpu beban tubuh saat ditengkurapkan, saat ia didudukkan dengan dipegangi atau saat diberdirikan dengan bantuan.
2. Balita
Balita hypitonus cenderung mencondongkan badannya ke arah depan saat ia duduk, karena ia tak dpt mengaktifkan muscularate tubuh untuk menopang tubuhnya agar tetap tegak. Mereka lebih menyukai posisi duduk dalam bentuk W agar dpt tetap duduk tanpa mengaktifkan otot inti tubuh dan otot postural. Anak dengan tonus otot lemah akan nampak terhambat dalam mencapai tumbuh kembang motorik kasarnya dan akan sulit bagi mereka untuk berguling, duduk, merangkak dan berjalan mandiri.
3. Masa kanak-kanak
Anak hypotonus lebih menyukai partisapi pasif daripada aktif di sekolah dan dalam kegiatan ekstrakurikuler, menunjukkan tolerasi rasa frustasi yg rendah terhadap kegiatan yg menantang secara fisik. Mereka mungkin mudah lelah dan gerakan membuat mereka pening walaupun mereka mampu secara kognitif. Duduk di kelas berlama-lama dan berhadapan dengan meja akan menjadi sangat menantang selama aktifitas mengharuskan menulis di atas meja dan anak-anak akan mudah kehilangan fokus hanya karena tekanan fisik. Saat anak tumbuh, hypotonus akan berefek pd cara melangkah dan pola berlari. Anak akan memiliki telapak kaki yg menghadap keluar dan hanya sedikit atau bahkan tak ada sokongan pd arc.
Tujuan dari penanganan:
-membahas kekuatan dan sokongan proximal untuk memfasilitasi kekuatan fungsi distal.
-memperbaiki kontrol postural.
-memfasilitasi perkembangan motorik dan dasar dari perencanaan gerak.
-memperbaiki respon postural dan reaksi protektif.
-mengatasi fluidity/cairan dan efisiensi gerakan.
-memperbaiki kekuatan fungsional
Strategi Penanganan:
1. Sabar
Karena anak hypotonus seringkali menunjukkan respon motorik langsung, baik terapis dan orang yg merawatnya cenderung menyerah pd apa yg saat itu tengah mereka lakukan dan segera beralih ke aktifitas lain. Sabar sangatlah penting karena dengan waktu yg memadai, bantuan yg sesuai, anak mampu mencapai tujuan dengan kapasitasnya. Menunggu respon ini adalah kunci. Dengan mempertahankan aktifitas yg sama dan memodifikasi aktifitas untuk meraih keberhasilan, anda mampu memfasilitasi aktifasi otot dan fluiditas pola gerak.
2. Mengikuti urutan tumbuh kembang:
Anak hypotonus seringkali berjuang mencapai tumbuh kembang motoriknya. Biarkan anak mengalami setiap urutan tahapan tumbuh kembang tanpa mengindahkan kapan ia memulai terapi. Bantu transisi antara posisi anggota tubuh yg penting: terlentang, tengkurap, duduk, merangkak, duduk berlutut, duduk, duduk setengaj berlutut dan berdiri.
3. Membantu mengupayakan kesejajaran tubuh yg tepat:
Membangun kesejajaran base of support tubuh simetris yg tepat di setiap tahapan tumbuh kembangnya. Jika anda tengah mengupayakan posisi duduk, pastikan pelvis berada pd posisi netral. Jika anda tengah mengupayakan posisi berdiri, pastikan telapak kaki sejajar dan beban tubuh berada pd permukaan sokongan agar membantu perkembangan otot secara fungsional dan membantu menghilangkan potensi kompensasi otot.
4. Menilai input
Cobalah untuk mengagetkan anak dengan gerakan kejut, jangan mendorong atau menarik, dan biarkan anak mengaktifkan kinerja ototnya dan meminimalisir jatuh.
5. Kurangi sokongan perlahan-lahan
Mulailah dengan base of support proximal yg lebih tinggi saat menangani anak dan rendahkan perlahan saat anak meraih kontrol. Saat menangani kontrol postural, mulai dengan sokongan bahu atas/sendi bahu/ shoulder girdle dan mulailah merendahkan begitu anak mengaktifkan dan menguatkan, hingga mampu membuat anak meraih kemandirian fungsional.
6. Buatlah kegiatan itu fungsional
Fokus pd fungsi. Bicarakan pd keluarga yg merawat mengenai kebutuhan hariannya. Bantulah dengan kegiatan harian seperti berpakaian, beranjak pergi dari posisi duduk di kursi sekolah dan sebaliknya, bantulah perencanaan gerak baik secara praktikal dan prilaku yg bermanfaat.
7. Bertujuan meraih keberhasilan
Pecah kegiatan menjadi komponen yg mampu ia lakukan. Biarkan anak memiliki waktu yg tepat dan energi untuk melakukan suatu kegiatan. Jangan lupa berikan dukungan yg positif.
Ide-ide aktifitas menangani hypotonus
1. Gunakan bola terapi untuk:
-meningkatkan keinginan anak dan menginhibisi jatuh secara pasif dan melawan gravitasi.
- memfasilitasi kontrol motorik
- membantu kekuatan otot
- memfasilitasi transisi (perpindahan posisi)
- memberikan input vestibular
- melatih reaksi righting dan respon protektif

2. Gunakan posisi tumbuh kembang
-tengkurap: gunakan pergerakan yg membuat anak mampu memindahkan beban tubuh secara simetris melalui upper extremitis (tangan, lengan dan bahu)
-dalam posisi merangkak: arahkan pd tekanan yg terukur melalui pelvis untuk memanjangkan tulang belakang untuk memancing penopang beban tubuh melalui bagian tubuh atas dan bawah ( dpt menggunakan foam roller) untuk memfasilitasi.

3. Berlutut: menggunakan sokongan od pelvis untuk membantu anak memindahkan beban pd pusat gravitasi tubuh bagian bawah dan membantu perpindahan dari berlutut ke setengah berlutut tanpa menggunakan tubuh bagian atas:
-kursi berbentuk kubus sangat cocok sebagai penopang untuk melatih duduk berlutut.
4. Gunakan tekanan pd sendi
-menekan sendi, bila dilakukan secara tepat oleh tenaga medis yg terlatih mampu membantu meningkatkan aktifasi otot di sekitar sendi dan membantu anak menjaga sendi sejajar berlawanan dengan gravitasi.
-lakukan tekanan ps sendi yg sejajar dengan dibantu terapis (dari proximal ke distal(
-gunakan tekanan yg bergradasi untuk memperkirakan kerja sendi tanpa penekanan berlebihan dan distraksi sendi yg tergradasi untuk mensejajarkan sendi tanpa menekannya berlebihan.

5. Gunakan pancingan taktil
-dengan fasilitasi otot yg sesuai selama intervensi terapis kita dpt membantu anak membangun kesadaran dan membantu awal dari produksi tekanan.
- input taktil dpt menyokong penyaruan pengaktifan otot yg menyokong sendi.
- pijatan lembut juga membantu menyokong aktifasi otot, meningkatkanbpertumbuhan otot dan mineralisasi pd anak hypotonus.
6. Upayakan permainan aktif
-permainan koordinasi bilateral(mengupayakan kedua sisi tubuh dan pergerakan koordinasi silang)
-musik adalah motivator yg paling bagus, egg shaker merupakan permainan yg sangat disukai di rumah kami.
-ketrampilan olahraga (aktifitas yg menyatukan koordinasi mata-tangan, meraih, berjongkok dan keseimbangan).
-gunakan halang rintang.
-bermain di dalam terowongan adalah cara yg mengasyikkan untuk membangun kekuatan, perencanaan gerak dan ketahanan.
-memanjat ke atas dan ke bawah(mentargetkan pd aktifasi otot cocentric dan eccentric)
-ini adalah langkah awal untuk melatih memanjat
- mengupayakan berdiri, merambat dan berjalan.
-kursi kubus memberikan permukaan yg baik untuk melatih berdiri dengan topangan.
-carilah aktifitas yg menarik, membuat mereka memusatkan oerhatian dan memotivasi. Baik itu renang, naik kuda, naik sepeda dan menari. Bermain secara aktif harus menjadi bagian dari seluruh kehidupan anak kita.
Disadur www.dinopt.com
Hypotonus adalah diagnosa umum, yg acapkali disalahartikan. Pada postingan kali ini saya berharap mampu memberikan pemahaman tentang congenital hypotonus (hypotonus bawaan) dengan memberikan gambaran bagi keluarga atau orang yg merawat anak dengan hypotonus dan juga bagi tenaga kesehatan yg menanganinya.
Diagnosa hypotonus/tonus otot lemah sering digunakan untuk mendeskripsikan beberapa kemungkinan yg terdpt di dalamnya. hypotonus bisa saja terlihat tidak serius atau serius yg kemudian mempengaruhi kontrol motorik. Mengenali hypotonus bahkan pd masa awal kelahiran bayi, relatif sangat mudah, tapi mendiagnosa penyebabnya tidaklah demikian.
Efek jangka panjang pd hypotonus terhadap tumbuh kembang anak tergantung pd tingkat keparahan hypotonus, sama halnya dengan sifat etiology yg melatarbelakanginya. Beberapa kelainan memang membutuhkan rawatan medis, namun rawatan untuk hampir sebagian anak dengan hypotonus bawaan sebenarnya adalah fisio terapi dan okupasi terapi.
Tanda dan gejala hypotonus
-sulit menjaga kontrol kepala
-sulit duduk tegak tanpa bersandar atau tanpa ada sokongan.
-lamban mencapai tumbuh kembang motorik.
-sulit berpindah dari posisi awal ke posisi berikut.
-nampak ceroboh atau nampak pola gerak yg tidak efisien.
-global delay development.
-mengalami kesulitan pd koordinasi mata dan tangan.
-lebih memilih untuk mengobservasi daripd berpartisipasi.
-rasa toleransi frustasi yg rendah terhadap kegiatan yg menantang secara fisik.
Pembeda diagnosa
Sangat penting untuk menentukan potensi etiology yg melatarbelakangi yg bisa nampak pd kasus hypotonus. Beberapa kondisi berikut ini membutuhkan lebih banyak intervensi medis.
1. Riwayat kondisi pasien dan keluarga secara detail:
-kehamilan secara detaik, proses kelahiran, dan masa sesudah dilahirkan sangatlah membantu diagnosa. Riwayat keluarga apa pun yg menunjukkan gejala hypotonus juga amat penting.
2. Penilaian tumbuh kembang
Untuk memahami capaian tumbuh kembang motorik dan implikasinya pd tumbuh kembang fisik anak, sosial dan emosi anak.
3. Tes fisik
Termasuk tonus otot, reflek neurologis, kekuatan otot, kontrol postural, laxity sendi, respons protektif dan reaksi equilibrium/righting.
Kekuatan Otot vs Tonus Otot
Setiap otot di tubuh kita memiliki tonus otot. Tonus otot didefinisikaan sebagai kemampuan potensial otot untuk merespon atau menahan tekanan dari luar, rentangan atau perubahan arah gerak. Tonus otot yg sesuai akan merespon cepat terhadap tekanan dari luar baik melalui respon keseimbangan, reaksi righting atau reaksi protektif. Tonus juga membuat otot anak cepat relax saat perubahan yg ia terima tak ada lagi. Anak dengan hypotonus memiliki otot yg lamban untuk memulai kontraksi terhadap tekanan dari luar dan tak mampu mempertahankan kontraksi otot yg berkepanjangan.
Kekuatan otot merujuk pd kemampuan otot untuk secara aktif berkontraksi dan menciptakan daya untuk merespon terhadap resistensi (tarikan, dorongan, dan saat diangkat, etc). Walaupun kekuatan dan tonus berbeda, saat otot tak berada pd posisi ideal untuk kontraksi maka kekuatan otot akan terpengaruh.
Hypotonus dapat pula nampak sebagai suatu gangguan pada:
-proses sensori, di mana sistem vestibular, proprioceptive dan taktil gagal untuk memberikan sinyal pd otak tentang perubahan posisi tubuh.
-praxis atau perencanaan gerak, yg mana tubuh tak mampu untuk memformulasikan respon motorik yg sesuai.
-keseimbangan, dengan tubuh tak mampu mempertahankan aktifasi yg bersamaan pd sekelompok otot untuk melawan gravitasi baik secara statis maupun dinamis.
-koordinasi, dengan sulitnya mengkoordinasikan gerakan tubuh atas dan bawah atau sistem visual untuk memproduksi cairan/fluid dan gerakan yg efisien.
Hypotonus pada pertumbuhan anak:
1. Bayi baru lahir dan bayi:
Akan menunjukkan kontrol kepala yg tidak baik. Bayi akan terlihat terlepas dari genggaman tangan anda dan memiliki kesulitan menegakkan tubuhnya saat anda menggendongnya. Saat terlentang, bayi hypitonus akan meletakkan lengannya dan kakinya terkulai ke arah luar menjauhi tubuh dan kadang menolak menumpu beban tubuh saat ditengkurapkan, saat ia didudukkan dengan dipegangi atau saat diberdirikan dengan bantuan.
2. Balita
Balita hypitonus cenderung mencondongkan badannya ke arah depan saat ia duduk, karena ia tak dpt mengaktifkan muscularate tubuh untuk menopang tubuhnya agar tetap tegak. Mereka lebih menyukai posisi duduk dalam bentuk W agar dpt tetap duduk tanpa mengaktifkan otot inti tubuh dan otot postural. Anak dengan tonus otot lemah akan nampak terhambat dalam mencapai tumbuh kembang motorik kasarnya dan akan sulit bagi mereka untuk berguling, duduk, merangkak dan berjalan mandiri.
3. Masa kanak-kanak
Anak hypotonus lebih menyukai partisapi pasif daripada aktif di sekolah dan dalam kegiatan ekstrakurikuler, menunjukkan tolerasi rasa frustasi yg rendah terhadap kegiatan yg menantang secara fisik. Mereka mungkin mudah lelah dan gerakan membuat mereka pening walaupun mereka mampu secara kognitif. Duduk di kelas berlama-lama dan berhadapan dengan meja akan menjadi sangat menantang selama aktifitas mengharuskan menulis di atas meja dan anak-anak akan mudah kehilangan fokus hanya karena tekanan fisik. Saat anak tumbuh, hypotonus akan berefek pd cara melangkah dan pola berlari. Anak akan memiliki telapak kaki yg menghadap keluar dan hanya sedikit atau bahkan tak ada sokongan pd arc.
Tujuan dari penanganan:
-membahas kekuatan dan sokongan proximal untuk memfasilitasi kekuatan fungsi distal.
-memperbaiki kontrol postural.
-memfasilitasi perkembangan motorik dan dasar dari perencanaan gerak.
-memperbaiki respon postural dan reaksi protektif.
-mengatasi fluidity/cairan dan efisiensi gerakan.
-memperbaiki kekuatan fungsional
Strategi Penanganan:
1. Sabar
Karena anak hypotonus seringkali menunjukkan respon motorik langsung, baik terapis dan orang yg merawatnya cenderung menyerah pd apa yg saat itu tengah mereka lakukan dan segera beralih ke aktifitas lain. Sabar sangatlah penting karena dengan waktu yg memadai, bantuan yg sesuai, anak mampu mencapai tujuan dengan kapasitasnya. Menunggu respon ini adalah kunci. Dengan mempertahankan aktifitas yg sama dan memodifikasi aktifitas untuk meraih keberhasilan, anda mampu memfasilitasi aktifasi otot dan fluiditas pola gerak.
2. Mengikuti urutan tumbuh kembang:
Anak hypotonus seringkali berjuang mencapai tumbuh kembang motoriknya. Biarkan anak mengalami setiap urutan tahapan tumbuh kembang tanpa mengindahkan kapan ia memulai terapi. Bantu transisi antara posisi anggota tubuh yg penting: terlentang, tengkurap, duduk, merangkak, duduk berlutut, duduk, duduk setengaj berlutut dan berdiri.
3. Membantu mengupayakan kesejajaran tubuh yg tepat:
Membangun kesejajaran base of support tubuh simetris yg tepat di setiap tahapan tumbuh kembangnya. Jika anda tengah mengupayakan posisi duduk, pastikan pelvis berada pd posisi netral. Jika anda tengah mengupayakan posisi berdiri, pastikan telapak kaki sejajar dan beban tubuh berada pd permukaan sokongan agar membantu perkembangan otot secara fungsional dan membantu menghilangkan potensi kompensasi otot.
4. Menilai input
Cobalah untuk mengagetkan anak dengan gerakan kejut, jangan mendorong atau menarik, dan biarkan anak mengaktifkan kinerja ototnya dan meminimalisir jatuh.
5. Kurangi sokongan perlahan-lahan
Mulailah dengan base of support proximal yg lebih tinggi saat menangani anak dan rendahkan perlahan saat anak meraih kontrol. Saat menangani kontrol postural, mulai dengan sokongan bahu atas/sendi bahu/ shoulder girdle dan mulailah merendahkan begitu anak mengaktifkan dan menguatkan, hingga mampu membuat anak meraih kemandirian fungsional.
6. Buatlah kegiatan itu fungsional
Fokus pd fungsi. Bicarakan pd keluarga yg merawat mengenai kebutuhan hariannya. Bantulah dengan kegiatan harian seperti berpakaian, beranjak pergi dari posisi duduk di kursi sekolah dan sebaliknya, bantulah perencanaan gerak baik secara praktikal dan prilaku yg bermanfaat.
7. Bertujuan meraih keberhasilan
Pecah kegiatan menjadi komponen yg mampu ia lakukan. Biarkan anak memiliki waktu yg tepat dan energi untuk melakukan suatu kegiatan. Jangan lupa berikan dukungan yg positif.
Ide-ide aktifitas menangani hypotonus
1. Gunakan bola terapi untuk:
-meningkatkan keinginan anak dan menginhibisi jatuh secara pasif dan melawan gravitasi.
- memfasilitasi kontrol motorik
- membantu kekuatan otot
- memfasilitasi transisi (perpindahan posisi)
- memberikan input vestibular
- melatih reaksi righting dan respon protektif

2. Gunakan posisi tumbuh kembang
-tengkurap: gunakan pergerakan yg membuat anak mampu memindahkan beban tubuh secara simetris melalui upper extremitis (tangan, lengan dan bahu)
-dalam posisi merangkak: arahkan pd tekanan yg terukur melalui pelvis untuk memanjangkan tulang belakang untuk memancing penopang beban tubuh melalui bagian tubuh atas dan bawah ( dpt menggunakan foam roller) untuk memfasilitasi.

3. Berlutut: menggunakan sokongan od pelvis untuk membantu anak memindahkan beban pd pusat gravitasi tubuh bagian bawah dan membantu perpindahan dari berlutut ke setengah berlutut tanpa menggunakan tubuh bagian atas:
-kursi berbentuk kubus sangat cocok sebagai penopang untuk melatih duduk berlutut.
4. Gunakan tekanan pd sendi
-menekan sendi, bila dilakukan secara tepat oleh tenaga medis yg terlatih mampu membantu meningkatkan aktifasi otot di sekitar sendi dan membantu anak menjaga sendi sejajar berlawanan dengan gravitasi.
-lakukan tekanan ps sendi yg sejajar dengan dibantu terapis (dari proximal ke distal(
-gunakan tekanan yg bergradasi untuk memperkirakan kerja sendi tanpa penekanan berlebihan dan distraksi sendi yg tergradasi untuk mensejajarkan sendi tanpa menekannya berlebihan.

5. Gunakan pancingan taktil
-dengan fasilitasi otot yg sesuai selama intervensi terapis kita dpt membantu anak membangun kesadaran dan membantu awal dari produksi tekanan.
- input taktil dpt menyokong penyaruan pengaktifan otot yg menyokong sendi.
- pijatan lembut juga membantu menyokong aktifasi otot, meningkatkanbpertumbuhan otot dan mineralisasi pd anak hypotonus.
6. Upayakan permainan aktif
-permainan koordinasi bilateral(mengupayakan kedua sisi tubuh dan pergerakan koordinasi silang)
-musik adalah motivator yg paling bagus, egg shaker merupakan permainan yg sangat disukai di rumah kami.
-ketrampilan olahraga (aktifitas yg menyatukan koordinasi mata-tangan, meraih, berjongkok dan keseimbangan).
-gunakan halang rintang.
-bermain di dalam terowongan adalah cara yg mengasyikkan untuk membangun kekuatan, perencanaan gerak dan ketahanan.
-memanjat ke atas dan ke bawah(mentargetkan pd aktifasi otot cocentric dan eccentric)
-ini adalah langkah awal untuk melatih memanjat
- mengupayakan berdiri, merambat dan berjalan.
-kursi kubus memberikan permukaan yg baik untuk melatih berdiri dengan topangan.
-carilah aktifitas yg menarik, membuat mereka memusatkan oerhatian dan memotivasi. Baik itu renang, naik kuda, naik sepeda dan menari. Bermain secara aktif harus menjadi bagian dari seluruh kehidupan anak kita.
Disadur www.dinopt.com



