Sabtu, 13 Mei 2017

ALIRAN RASA
GAYA BELAJAR ANAK

Alhamdulillah game gaya belajar anak ini membuat saya menjadi lebih terbuka lagi dalam melihat gaya belajar kakang. Lebih banyak memperhatikan kakang bahkan hanya dari mainan sederhana. Menemukan gaya belajar kakang itu gampang-gampang susah. Kadang kakang bisa hanya membaca buku dengan tenang, atau bisa sambil ngomong sendiri terutama untuk menghafalkan surat2 pendek pasti dibacakan berulang kali dengan suara keras. Sepertinya kakang memang cenderung lebih ke audio visual gaya belajarnya....semangat bunda buat terus menggali potensinya, karna sudah menemukan gaya belajarnya.

Sabtu, 22 April 2017


GAYA BELAJAR ANAK

(Game Level 4)

- TANTANGAN HARI KE 1

hari ini kakang lebih banyak main sendiri karna kekey lagi sakit jadi bunda fokus dulu buat jagain kekey...maaf ya kang. tapi tidak luput dari memperhatikan kakang terutama permainan kakang. kakang sedang suka bermain kartu bergambar, dengan berbagai cara bermain bunda perhatikan kakang lebih cenderung ke auditory karna setiap dia bermain tidak pernah berhenti berbicara. mungkin ini adalah salah satu cara untuk dia menghafalkan sesuatu.

- TANTANGAN HARI KE 2

Kebetulan bunda mau bikin cilok sekalian deh ajakin kakang bikin, sambil mengamati gaya belajarnya. pas bikin adonan semua ditanyain sama kakang mulai dari mau bikin apa? itu yang dimasukin apa? kenapa pake bawang? bawang bau...dll. setelah selesai menguleni adonan siap untuk dibulat-bulat. kakang bantuin bunda bulatin adonan cilok. sambil terus mengoceh bentuknya begini? besarnya segini? kekecilan deh...dia selalu mengeluarkan kata-kata untuk setiap hal yang dia perhatikan. kayanya memang lebih berat di auditory untuk gaya belajar kakang.

karna kekey masih sakit bunda belum bikin kegiatan apa-apa buat kekey...semoga lekas sembuh ya de, jadi bunda bisa perhatikan juga gaya belajar ade, meskipun kayanya kekey lebih banyak di audiotory dan visual. tapi harus perhatikan lagi supaya tidak salah.

- TANTANGAN HARI KE 3

Kesukaan kakang akhir-akhir ini adalah main yoyo. karna yoyo kakang jadi suka browsing berbagai permainan style yoyo. setelah menonton pasti kakang langsung mempraktekan. kalau kakang udah bisa menunjukan sama orang rumah. berbagai style kakang praktekan dan ada beberapa trik yang belum kakang bisa pasti dia cerita. sepertinya gaya kakang belajar itu memang dari mendengarkan, kakang menghafalkan trik yoyo sambil terus mengulang-ulang namanya.

kekey masih sakit tapi bunda selipin latihan penguatan otot inti tubuh sambil diuap. alat uap bunda simpen dimeja dan kekey berdiri diatas lutut sambil menghirup uap yang keluar dari nebunya....sambil menyelam minum air...hihihihi

- TANTANGAN HARI KE 4

Semalem kakang tumben ngutak-ngatik lego yang udah lama dia simpen. tapi anehnya diem ngerjainnya sambil terus pasang lego sesuai petunjuk di buku, biasanya pasti sambil ngoceh ngomongin legonya. dia perhatiin detail lego itu dengan muka serius. ini gak seperti biasanya...mungkin karna udah gede juga kali ya...tapi setelah selesai baru dia cerita kalau ada beberapa bagian lego yang hilang...sambil diperhatikan ternyata gaya belajar kakang juga ada visualnya.

- TANTANGAN HARI KE 5

Pulang sekolah kakang terus mengulang-ulang ayat yang ada di surat al-kahfi, sambil bertanya:
Kakang : bunda ini surat apa? sambil membaca ayat dalam surat alkahfi.
Bunda   : apa ya?
Kakang : itu al-kahfi bun...
Bunda  : ooh gitu...maaf kang bunda belum hafal surat al-kahfi.
Kakang : aku juga baru hafal 1 ayat
Bunda  : iya gpp nanti juga hafal semua asal kakang terus belajar.
Kakang : iya.

sambil mainan kartu, sambil nonton tv mulutnya gak berhenti melantunkan ayat dalam surat al-kahfi. sepertinya dengan cara mengulang-ulang itu membantu kakang untuk lebih cepat mengingat.

- TANTANGAN HARI KE 6

kalau kakang bermain atau belajar biasanya bareng sama kekey, tapi karna kekey sakit bunda belum bisa bikin mainan apa-apa buat kakang atau kekey. fokus dulu biar kekey cepet sembuh. jadi bunda menganalisa kakang lewat permainan yang memang kakang mainkan sendiri. hari ini kakang main hot wheels, kakang ini termasuk anak yang suka mempresentasikan segala sesuatu. termasuk main hot wheels pasti dia main sambil cerita, ini balapan sama ini menang yang ini bun tapi klo balapan sama yang biru, yang biru menang. sepertinya kakang cocok jadi presenter atau komentator...hihihi.. 

- TANTANGAN HARI KE 7

Mungkin memang lagi musim ya main rubik...kakang sampe keukeuh pengen beli lagi karna yang sebelumnya ilang. tapi alhamdulillah karna selama ini selalu ngajarin beli sesuatu dari tabungan sendiri jadi beli rubik lagi dari uang tabungan kakang. bunda ajarin bahwa kalau ingin sesuatu itu gak mudah atau hanya tinggal minta, kalau kakang pengen sesuatu mesti ada perjuangannya dulu. kakang sambil main rubik sambil terus cerita, aku bisa bun satu warna tunggu ya dikit lagi...tuh berhasil yang warna putih. coba ganti warna hijau...bisa tuh katanya. ternyata untuk satu warna kakang udah bisa, dicoba dua warna masih belum bisa. dengan main rubik bunda perhatikan visual dan auditorynya jalan bersama karna permainan rubik ini permainan koordinasi mata dan tangan serta otak... mudah-mudahan kakang nanti bisa semua warna ya main rubiknya.

- TANTANGAN HARI KE 8

Dari dulu kakang itu paling senang matematika, cepet banget deh hafalnya itu matematika. sampe-sampe waktu TK dia pengen belajar perkalian, bunda kaget. bunda kira memang disekolahnya diajarin perkalian ternyata pas cek ke gurunya belum belajar perkalian. tapi karna kakang yang minta jadi kita ajarin meskipun hafalan dulu. dan memang kakang paling suka belajar matematika dengan tebak-tebakan atau dikte. bunda 4x2 berapa? ayo kakang hitung... delapan ya...dari dulu belajarnya pasti dengan lisan jarang banget belajar pake tulisan atau pake sempoa, paling bagus pake jari...hihihi. dan memang kakang paling cepet inget kalau dia dengerin, jadi kalau ngapalin itu sambil dikte...kayanya memang tipe auditory nih kakang.

- TANTANGAN HARI KE 9

Kebetulan kemaren itu ada acara temen-temen kekey di citilink. kakang bunda ajak kalau tiap ada kegiatan kekey, biar kakang mulai paham bahwa adiknya down sindrom. setelah selesai acara kita langsung pulang tapi ternyata dijalan macet. sambil mengisi kebosanan karna macet kakang ngapalin surat-surat pendek sambil terus diulang-ulang entah berapa kali dan lumayan berisik karna lumayan kenceng...hihihi. tapi alhamdulillah dengan ngapalin begitu jadi cepet ingetnya.

- TANTANGAN HARI KE 10

Hari ini disekolah kakang buat tempat foto atau pigura dari kardus bekas. Kakang cerita kalau kardus itu dipotong kemudian dilukis dengan menggunakan cetakan buah belimbing. Ceritanya detail sekali dari mulai memotong lem dan menghias. Kakang juga cerita siapa yang bawa belimbing...dan protes juga karna bundanya lupa bawain cat air padahal dirumah ada...hihihi...maaf ya kang kelupaan.


  

  

 
 
  
 

Sabtu, 15 April 2017

Foto Dini Wisaksono. 

TIPS DAN TRIKS AGAR BAYI TENGKURAP
(Motorik Kasar)

Diambil dari FB Dini Wisaksono 

Postingan berikut ini akan menggarisbawahi pentingnya tengkurap dan akan memberikan tips dan triks bagi bayi agar aktivitas tengkurap lebih menyenangkan.

Mari mulai dengan beberapa pertanyaan:
1. Mengapa bayi membutuhkan posisi tengkurap?
Posisi tengkurap membantu bayi membangun otot leher, punggung dan bahu. Otot ini dibutuhkan untuk mencapai tumbuh kembang usia dini. Tengkurap juga membantu mencegah keterlambatan motorik dan kondisi seperti sindrome flat head (kepala rata/plagiocephaly) dan leher terkilir (torticollis). Akademi Dokter Amerika menyarankan agar menempatkan bayi terlentang saat ia tidur dan tengkurap saat ia bermain.


Waktu tengkurap juga memberikan kesempatan secara visual untuk mengekplorasi lingkungan dgn cara yg baru. Saat bayi diposisikan terlentang, ia hanya menatap langit-langitvdan apa pun yg langsung berhadapan dengan matanya. Namun jika bayi tengkurap, mereka mulai berinteraksi secara mandiri dengan mengaktifkan otot mereka untuk mengangkat kepala mereka dan melihat lingkungan di sekililing mereka sesuai jarak pandang mata mereka dan memberikan bayi pandangan baru tentang dunia.
Saat bayi mulai meraih kontrol kepala dan leher dengan tengkurap, mereka akan mampu mengangkat tubuh dengan lengan bawah lalu dengan telapak tangan. Input ini penting untuk kestabilan bahu sama halnya dengab kekuatan tangab dan untuk perkembangan motorik halus di masa yg akan datang.

2. Mengapa bayi saya tidak suka tengkurap?
Menempatjan bayi tengkurap memang melelahkab bagi mereka, terutama saat anak berusaha melawan gravitasu untuk menjaga kepala mereka tetap tegak. Otot kepala, leher dan punggung belakang belum terbiasa unutk hal ini hingga otot belum berkembang.banak juga mungkin merasa terjebak di posisi ini karena mereka belum menguasai kemahiran berguling dari posisi tengkurap lalu terlentang.


3. Bagaimana saya bisa membuat aktifitas tengkurap lebih menyenangkan?
Alih-alih menengkurapkan bayi dan meninggalkan mereka debgab beberapa mainan, mula-mula mulailah dengan menggulingkan mereka dari terlentang ke tengkurap, tengkurapnke terlentang beberapa kali. Ini merupakan cara yg baik sekali untuk menyatukan pembelajaran motorik dan menunjukkan pd anak jika mereka dpt mengubah posisi bolak-balik saat tengkurap.


Ajak mereka bicara selama anda menngajak mereka bergerak dan bertindak bersamaan dengan saat anda membimbing mereka untuk tengkurap. Suara anda akan menenangkan dan meyakinkan mereka. Buatlah tengkurap menjadi aktifitas rutin harian bersamaab saat anak anda mencapai kemahiran motorik lainnya, dan anda akan melihat perbaikan nyata dari segi kenyamanan dan tingkay kemahiran mereka.

3. Kapan sebaiknya bayi saya mulai tengkurap?
Tengkurap bisa dimulai segera setelah bayi anda pulang dari rumah sakit.


4. Berapa banyak waktu tengkurap yg dibutuhkan bayi?
Cobalah membangun toleransi bayi yg menyatukan beberapa aktifitas bayi tengkurap bayi yg berbeda sepanjang hari. Awali beberapa menit sekali, selama beberapa kali dalam sehari. Saat anak anda meraih kekuatan dan kenyamanan, tingkatkan durasi tengkurap.


Tips dan Trik Tengkurap yang Menyenangkan
Tengkurap tidak hanya mengharuskan bayi berada di lantai. Berikut ini adalah beberapa tips dan triks untuk menggabungkan rutinitas tengkurap dan membuatnya menjadi menyenangkan.

1. Perut ke perut
Berbaringlah di atas permukaan yg lembut, rebahkan tubuh anda sejajar dengan lantai atau bisa juga sedikit bertumpu pd bantal. Taruh bayi di atas dada atau perut, hingga anda saling berhadapan. Selalu pegang bayi dengan erat demi menjaga keselamatannya. Ini bukan hanya baik sebagai alternatif posis tengkurap, ini baik pula bagi sistem visual bayi dan satu cara yg baik sekali untuk membangun ikatan orang tua dan bayi.

Foto Dini Wisaksono.

2. Tersenyun dengan mata sejajar memandang bayi.
Berbaringlag tengkurap sejajar dengan bayi untuk membangun kontak mata dengan bayi. Anda dpt menggulung selimut dan menempatkannya di bawah dada bayi dab lengan bayi untuk dokongan tambahan. Gunakan mainan yg lunak dan tali, saat mata bayi teroaku pd mainan, gerakkann mainan perlahan dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah, dan anak anda akan mulai mengikuti dengan matanya sembari menjaga kestabilan posisi tengkurap.

Foto Dini Wisaksono.

3. Pangkuan yg menenangkan
Tempatkan bayi anda tengkurap di atas pangkuan anda agar bayi bersendawa atau tenangkan mereka. Taruh tangan anda pd bokong bayi yg mana ini akan membantu menenangkan dan menstabilkan mereka.


4. Gendong dengan posisi tengkurap
Taruh 1 tangan di bawah perut dan di antara kaki dan gendong bayi dengan posisi tengkurap. Tempatkan bayi mendekati tubuh anda.


5. Aktifitas tengkurap durasi
Posisikan bayi tengkurao setelah aktifitas seperti mengganti popok atau mandi selama durasi 1-2 menit. Perlahan naikkan durasinya dan biarkan bayi terbiasa tengkurap sebagai bagian dari rutinitas harian mereka.


Posisi waktu tengkurap sambil bermain lainnya:
1. Tengkurap di atas bola terapi.
2. Tengkurap di atas incline wedge.
3. Bermain pesawat-pesawatan.

disadur dari www.dinopt.com
Foto Dini Wisaksono. 

KEKUATAN TANGAN DAN TUBUH BAGIAN ATAS

diambil dari fb Dini Wisaksono

Untuk menilai kekuatan tangan dan tubuh bagian atas pada anak, kita harus melihat pada sebuah gambaran besar! Biasanya kelemahan yg muncul pada motorik halus anak memiliki implikasi global dan kita dpt menilai sumbernya dengan lebih detail. Saat menangani anak dengan masalah pada motorik halus, penting sekali jika kita mengevaluasi kontrol postural, kekuatan otot tubuh dan stabilitasnya, kesejajaran bagian tubuh atas, kekuatan bahu, kestabilan bahu dan kemampuan motorik halus.

Ada banyak hal yg perlu dinilai untuk mengevaluasi sumber kelemahan atau hambatan pd motorik halus,
berikut ini adalah beberapa hal yg perlu diperhatikan:

-menilai postur dan reaksi postural anak.
-menilai kekuatan tubuh bagian atas saat menopang, kesejajaran pundak, siku dan tangan, apakah anak mampu menekukkan siku secara maksimal dan apakah mereka mampu memindahkan beban tubuh ke kiri dan ke kanan.
-menilai kemampuan motorik halus saat berdiri vs duduk
-menilai kemampuan motorik halusbsaat duduk pd posisi optimal dengan telapak kaki menempel pdnlantai, sudut pergelangan kaki, lutut dan pinggul berada pd sudut 90°.
-menilai persepsi taktil pada tangan anak
-menilai koordinasi bilateral.

Bahasan kali ini akan menitikberatkan pada komponen anak yang memiliki kelemahan pada tubuh bagian atas. Semua anak sebaiknya dievaluasi dan diberikan latihan secara individu dan rancangan aktifitas harus disusun berdasarkan kebutuhan yg spesifik. Jika anda menemui kesulitan, hubungi fisio terapis tumbuh kembang atau terapis okupasi.

Kekuatan Otot Tubuh dan Stabilitas
Kekuatan otot tubuh memberikan dasar topangan yg stabil yg mampu membuat tubuh bagian atas anak aktif secara efisien dengan kendali dan gerak yg tepat. Latihan-latihan yg dpt dilakukan:
1. Latihan dengan bola terapi 
Foto Dini Wisaksono.
2. Melakukan aktifitas saat duduk di atas bola terapi berbentuk silinder atau yg berbentuk bola.
Foto Dini Wisaksono.Foto Dini Wisaksono.
3. Melakukan aktifitas dengan duduk diatas dyna disk.
Foto Dini Wisaksono.
4. Melakukan aktifitas sambil berlutut.
Foto Dini Wisaksono.
5. Sit up di atas incline ramp.

Pertimbangan Kondisi Lingkungan dan Postural
Kekuatan tubuh bagian atas anak dan motorik halus anak berhubungan erat dengan postur dan penopang postural (dari kursi, meja, dsb). Menemukan posisi optimal untuk anak akan mengarahkan anak ke arah perbaikan pd kekuatan tangan dan ketrampilan motorik halus karena mereka mampu berinteraksi dengan lingkungan lebih bebas.

Topangan postural:
1. Posisi duduk optimal pd meja dengan telapak kaki menempel pd lantai, pergelangan kaki, lutut dan pinggul berada pd posisi 90°.

2. Permukaan vertikal
Beraktifitas pd permukaan vertikal seperti papan tulis akan membuat anak menggerakkan tangan dengan jangkauan lebih luas hingga menyokong kekuatab dan memberikan input bagi keseluruhan sendi dan otot pd tangan. Permukaan tegak lurus juga menyokong koordinasi bilateral, koordinasi silang, atensi visual, koordinasi mata dan tangan dan pengaktifan bagian tulang dan otot tubuh untuk menyokong postur yg lebih baik.
 
3. Slant board
Posisi slant board yg bersudut menyokong perbaikan postur karena mampu membuat garis pandang lebih tinggi dan membuat pergelangan tangan menekuk yg akan memberikan sokongan lebih baik untuk memegang alat tulis dengan lebih efisien dan untuk menguatkan genggaman tangan fungsional.

4. Mengubah posisi duduk
Duduk di atas bola terapi yg berbeda dengan kursi standard membuat anakbmampu memindahkanbbeban tubuh dan mengaktifkan otot dan tulang tubuh dan menyokong kesadaran akan postur yg lebih baik. Lakukan berbagai eksperimen pd bola terapi, peanut ball, dyna disc di atas kursi, kursi dengan bola terapi di atasnya atau wedge cushion untuk mencari tahu posisi terbaik anak.

Penopang Beban Tubuh Bagian Atas
Menopang beban tubuh melalui tangan menstimulasi dan menguatkan pergerakan bahu, bagian tangan dan lengan, otot tangan yg akan mempengaruhi ketrampilan motorik halus. Lakukan aktifitas-aktifitas berikut:
1. Aktifitas sambil tengkurap
2. Tengkurao di atas dyna disc wedge.
3. Tengkurap di atas guling
4. Posisi plank
5. Pose yoga yg menyokong beban tubuh bagian atas.
6. Meniru cara jalan hewan (jalan seperti kepiting, menendang seperti keledai dan merangkak seperti beruang).
7. Merangkak melalui terowongan.
8. Berjalan dengan posisi seperti gerobak dorong.
9. Aktifitas tengkurap di atas papan scooter.
10. Aktifitas mendorong dan menarik

Kekuatan Motorik Halus
Kita dpt membidik ketrampilan motorik halus dengan aktifitas yg lebih spesifik untuk memperbaiki kekuatan tangan dan jari, genggaman fungsional, kekuatan telapak tangan dan jari, manipulasi satu tangan dan integrasi koordinasi bilateral.
Alat bantu/mainan yg dpt digunakan:
1. Theraputty
2. Jepitan baju.
3. Botol spray.
4. Tweezer/penjepit 

Diterjemahkan dari www.dinosaurustherapy.com


ALIRAN RASA
MELEJITKAN KECERDASAN ANAK


Dengan adanya family project ini sangat membantu sekali. terutama saat kakang terlibat membuat taman mungil, kakang belajar kerjasama, belajar berbagi, belajar bertanggung jawab, belajar komunikasi dua arah. melibatkan kekey lebih mengasyikan karna kekey lebih banyak meniru kakang, belajar berbagi dan bergantian. untuk bunda sepertinya harus lebih sering membuat family project karna ini sarana membuat kakang belajar lebih kreatif dan memunculkan semangat baru untuk kami sekeluarga. alhamdulillah projectnya selesai meskipun laporannya kurang. tapi selanjutnya harus lebih semangat lagi...

Sabtu, 01 April 2017

Foto Dini Wisaksono. 

sensori integrasi

Diambil dari FB Dini Wisaksono

Postingan kali ini bermaksud untuk memberikan latar belakang informasi penting yg berhubungan dengan sensori integrasi dan untuk membantu memahami pathopsikologis yg mendasari kelainan pengolahan sensori ( sensory processing disorder).

Sensory Modulation Disorder (kelainan modulasi sensori)
Sensori modulation disorder (kelainan modulasi sensori) merujuk pd kemampuan untuk mencocokkan prilaku dengan intensitas stimulus. 

3 subtipe dari sensory modulation disorder:
1. Sensory over responsitivity ( respon berlebih dari sensori)
Seorang anak yg mengalami sensory over responsivity akan terganggu dengab suara, sentuhan atau gerak pemicu.

2. Sensory Under Responsivity(kurangnya respon dari sensori)
Seorang anak yg mengalami sensory under responsivity mungkin tidak fokus/sadar akan sekelilingnya, contohnya tidak menoleh ketika namanya dipanggil atau ia mungkin tidak tahan berlama-lama duduk tegak.

3. Sensory seeking (pencari input sensori)
Anak yg mencari input sensori akan terus bergerak tidak bisa diam dan cenderung melompat, berbicara keras atau memasukkan benda ke dalam mulut.

Anak dengan hambatan modulasi sensori akan terlihat sangat mudah terpicu atau akan sangat lamban merespon dan ia akan nampak:
- Sangat mudah terpicu (high respond)-aktivitas tinggi.
Comtohnya ia akan cenderung menyerang dan berprilaku agresif.
- Sangat mudah terpicu (high respond)-aktifitas rendah.
Anak akan cenderubg menghindar, menarik diri atau menutup diri.
- Lamban terpicu (low respond)-tinggi aktivitas.
Anak cenderung mencari input sensori, berlari dab menabrakkan diri ke sana dan kemari.
-Lamban terpicu-rendah aktifitas.

Anak cenderung pasif.
Sensory Discrimination Disorder (Kelainan Memilah Sensory)
Kelainan dalam memilah input sensori adalah kemampuan membedakan antara sinyal sensori. Seorang anak dengan kelainan memilah sensori akan memuliki berbagai hambatan, contohnya ia tidak dpt mendengar apa yg diucapkan seseorang bila ada suara latar belakang yg berisik. Ia tidak mampu merasakan pensil di antara benda lain di meja atau tak mampu membedakan apakah ia bergerak atau diam, kecepatannya saat ia bergerak atau ke arah mana ia bergerak.

Sensory-Based Motor Disorders (Kelainan Gerak Yg dipicu sensori).
Kelainan motorik/gerak acapkali memilikivlatar belakang sensori yg mencerminkan kelainan yg dilatarbelakangi sistem proprioceptive dan vestibular. Sistem vestibular memberikan informasi pd keseimbangan dan pergerakan yg bereaksi terhadap perubahan pd daya tarik gravitasi. Sisten proprioceptive memberikan informasi dari otot, ligamen dan sendi yg berhubungan dengan posisi yg menghubungkan bagian tubuh dan daya/kekuatan yg dikeluarkan tubuh.

Anak dengan gangguan dyspraxia 
akan memiliki hambatan saat ia merencanakan dan mengukur aktifitas geraknya. Ia akan erlihat ceroboh atau menghindari aktifitas rutin harian yg melibatkan beberapa proses yg harus ia lakukan. Anak dengan kelainan postural akan menumpukan tubuhnya ke meja saat ia duduk dan ia akan mengalami hambatan saat ia mengkoordinasikan kedua mata, kedua tangan atau pergerakan tubuh bagian atas dan bawah.

Permasalahan kelainan pengolahan sensori (sensory processing disorder) berakar dari buruknya indera perasa akan keberadaan dirinya secara fisik (sentuhan dan proprioceptive) hingga mengakibatkan pd berkomprominya tubuh untuk mengatasi hal ini, karena dibutuhkan pemusatan fokus otak dan tubuh agar tubuh menyatu (fungsi batang otak). Ini artinya anak tidak akan siap menuju fungsi kortikal yg lebih tinggi dan ia akan siap jika kebutuhan subcorticalnya terpenuhi. Contohnya anak yg berada pd kondisi yg teratur, ia akan terus menubrukkan diri, selalu bergerak dan mata yg tidak fokus, tidak akan siap untuk menuju ke pembelajaran motorik halus atau untuk melakukan aktifitas wicara dasar dan aktifitas bahasa lainnya.

Dengan observasi dan menilai kondisi fisik anak kita dpt menentukan tipe input apa ygbakan membantu anak untuk mengatur dan memberikanb anak oerangkat yg dibutuhkan untuk fokus pd tingkatan kinerja agar ia mampu menguasai ketrampilan dan pembelajaran.

Anak dengan kelainan sensori integrasi cenderung bertindak pd tingkatan batang otak. Mereka akan menunjukkan reaksi primitif demi pertahanan dan perlindungan diri yg mengakibatkan tubuh berfungsi secara autopilot (otomatis) hingga membatasi fungsi dan proses belajar. Sangat penting bagi anak untuk merasa aman, terlindungi, nyaman dan percaya diri dalam setiap lingkungan pembelajaran karena kita tak mampu belajar jika dalam kondisi tertekan.

Input somato sensori tertentu dari sistem vestibular, proprioceptive dan taktil acapkali membantu tiap individu dengan hambatan pengolahan sensori untuk mempersiapkan diri mengolah informasi dan membantu membatasi perasaan terhujani oleh stimuli eksternal. Sensasi berbeda akan memberikan respon yg berbeda dan cenderung spesifik pd tiap individu. Namun secara umum pikirkan apa yg menenangkan atau mengatur seorang anak yg juga anda rasakan. Gerakan berirama, pergerakan linear, swaddling, dan pergerakan mulut akan memberikan input yg intense pd sistem somatosensory. Selain itu, saat kita kesal atau gelisah, pelukan erat dpt membuat kita merasa lebih baik sama halnya seperti pijatan yg enak atau olahraga. Aktifitas tersebut dpt menyatukan sensasi taktil, proprioceptive, dan vestibular. Sensasi ini dipercaya mampu memfasilitasi oelepasan kimiawi tertentu yg berefek pd neuromodulatory yg artinyabaktifitas itu dpt memfasilitasi atau menenangkan sinyal syaraf.

Disadur dari www.dinopt.com.

Senin, 27 Maret 2017

Diambil dari facebook Dini Wisaksono.

 
Hypotonus adalah diagnosa umum, yg acapkali disalahartikan. Pada postingan kali ini saya berharap mampu memberikan pemahaman tentang congenital hypotonus (hypotonus bawaan) dengan memberikan gambaran bagi keluarga atau orang yg merawat anak dengan hypotonus dan juga bagi tenaga kesehatan yg menanganinya.

Diagnosa hypotonus/tonus otot lemah sering digunakan untuk mendeskripsikan beberapa kemungkinan yg terdpt di dalamnya. hypotonus bisa saja terlihat tidak serius atau serius yg kemudian mempengaruhi kontrol motorik. Mengenali hypotonus bahkan pd masa awal kelahiran bayi, relatif sangat mudah, tapi mendiagnosa penyebabnya tidaklah demikian.

Efek jangka panjang pd hypotonus terhadap tumbuh kembang anak tergantung pd tingkat keparahan hypotonus, sama halnya dengan sifat etiology yg melatarbelakanginya. Beberapa kelainan memang membutuhkan rawatan medis, namun rawatan untuk hampir sebagian anak dengan hypotonus bawaan sebenarnya adalah fisio terapi dan okupasi terapi.

Tanda dan gejala hypotonus
-sulit menjaga kontrol kepala
-sulit duduk tegak tanpa bersandar atau tanpa ada sokongan.
-lamban mencapai tumbuh kembang motorik.
-sulit berpindah dari posisi awal ke posisi berikut.
-nampak ceroboh atau nampak pola gerak yg tidak efisien.
-global delay development.
-mengalami kesulitan pd koordinasi mata dan tangan.
-lebih memilih untuk mengobservasi daripd berpartisipasi.
-rasa toleransi frustasi yg rendah terhadap kegiatan yg menantang secara fisik.


Pembeda diagnosa
Sangat penting untuk menentukan potensi etiology yg melatarbelakangi yg bisa nampak pd kasus hypotonus. Beberapa kondisi berikut ini membutuhkan lebih banyak intervensi medis.

1. Riwayat kondisi pasien dan keluarga secara detail:
-kehamilan secara detaik, proses kelahiran, dan masa sesudah dilahirkan sangatlah membantu diagnosa. Riwayat keluarga apa pun yg menunjukkan gejala hypotonus juga amat penting.
 

2. Penilaian tumbuh kembang
Untuk memahami capaian tumbuh kembang motorik dan implikasinya pd tumbuh kembang fisik anak, sosial dan emosi anak.


3. Tes fisik
Termasuk tonus otot, reflek neurologis, kekuatan otot, kontrol postural, laxity sendi, respons protektif dan reaksi equilibrium/righting.


Kekuatan Otot vs Tonus Otot
Setiap otot di tubuh kita memiliki tonus otot. Tonus otot didefinisikaan sebagai kemampuan potensial otot untuk merespon atau menahan tekanan dari luar, rentangan atau perubahan arah gerak. Tonus otot yg sesuai akan merespon cepat terhadap tekanan dari luar baik melalui respon keseimbangan, reaksi righting atau reaksi protektif. Tonus juga membuat otot anak cepat relax saat perubahan yg ia terima tak ada lagi. Anak dengan hypotonus memiliki otot yg lamban untuk memulai kontraksi terhadap tekanan dari luar dan tak mampu mempertahankan kontraksi otot yg berkepanjangan.

Kekuatan otot merujuk pd kemampuan otot untuk secara aktif berkontraksi dan menciptakan daya untuk merespon terhadap resistensi (tarikan, dorongan, dan saat diangkat, etc). Walaupun kekuatan dan tonus berbeda, saat otot tak berada pd posisi ideal untuk kontraksi maka kekuatan otot akan terpengaruh.

Hypotonus dapat pula nampak sebagai suatu gangguan pada:
-proses sensori, di mana sistem vestibular, proprioceptive dan taktil gagal untuk memberikan sinyal pd otak tentang perubahan posisi tubuh.
-praxis atau perencanaan gerak, yg mana tubuh tak mampu untuk memformulasikan respon motorik yg sesuai.
-keseimbangan, dengan tubuh tak mampu mempertahankan aktifasi yg bersamaan pd sekelompok otot untuk melawan gravitasi baik secara statis maupun dinamis.
-koordinasi, dengan sulitnya mengkoordinasikan gerakan tubuh atas dan bawah atau sistem visual untuk memproduksi cairan/fluid dan gerakan yg efisien.


Hypotonus pada pertumbuhan anak:

1. Bayi baru lahir dan bayi:
Akan menunjukkan kontrol kepala yg tidak baik. Bayi akan terlihat terlepas dari genggaman tangan anda dan memiliki kesulitan menegakkan tubuhnya saat anda menggendongnya. Saat terlentang, bayi hypitonus akan meletakkan lengannya dan kakinya terkulai ke arah luar menjauhi tubuh dan kadang menolak menumpu beban tubuh saat ditengkurapkan, saat ia didudukkan dengan dipegangi atau saat diberdirikan dengan bantuan.

2. Balita
Balita hypitonus cenderung mencondongkan badannya ke arah depan saat ia duduk, karena ia tak dpt mengaktifkan muscularate tubuh untuk menopang tubuhnya agar tetap tegak. Mereka lebih menyukai posisi duduk dalam bentuk W agar dpt tetap duduk tanpa mengaktifkan otot inti tubuh dan otot postural. Anak dengan tonus otot lemah akan nampak terhambat dalam mencapai tumbuh kembang motorik kasarnya dan akan sulit bagi mereka untuk berguling, duduk, merangkak dan berjalan mandiri.


3. Masa kanak-kanak
Anak hypotonus lebih menyukai partisapi pasif daripada aktif di sekolah dan dalam kegiatan ekstrakurikuler, menunjukkan tolerasi rasa frustasi yg rendah terhadap kegiatan yg menantang secara fisik. Mereka mungkin mudah lelah dan gerakan membuat mereka pening walaupun mereka mampu secara kognitif. Duduk di kelas berlama-lama dan berhadapan dengan meja akan menjadi sangat menantang selama aktifitas mengharuskan menulis di atas meja dan anak-anak akan mudah kehilangan fokus hanya karena tekanan fisik. Saat anak tumbuh, hypotonus akan berefek pd cara melangkah dan pola berlari. Anak akan memiliki telapak kaki yg menghadap keluar dan hanya sedikit atau bahkan tak ada sokongan pd arc.


Tujuan dari penanganan:
-membahas kekuatan dan sokongan proximal untuk memfasilitasi kekuatan fungsi distal.
-memperbaiki kontrol postural.
-memfasilitasi perkembangan motorik dan dasar dari perencanaan gerak.
-memperbaiki respon postural dan reaksi protektif.
-mengatasi fluidity/cairan dan efisiensi gerakan.
-memperbaiki kekuatan fungsional


Strategi Penanganan:

1. Sabar
Karena anak hypotonus seringkali menunjukkan respon motorik langsung, baik terapis dan orang yg merawatnya cenderung menyerah pd apa yg saat itu tengah mereka lakukan dan segera beralih ke aktifitas lain. Sabar sangatlah penting karena dengan waktu yg memadai, bantuan yg sesuai, anak mampu mencapai tujuan dengan kapasitasnya. Menunggu respon ini adalah kunci. Dengan mempertahankan aktifitas yg sama dan memodifikasi aktifitas untuk meraih keberhasilan, anda mampu memfasilitasi aktifasi otot dan fluiditas pola gerak.


2. Mengikuti urutan tumbuh kembang:
Anak hypotonus seringkali berjuang mencapai tumbuh kembang motoriknya. Biarkan anak mengalami setiap urutan tahapan tumbuh kembang tanpa mengindahkan kapan ia memulai terapi. Bantu transisi antara posisi anggota tubuh yg penting: terlentang, tengkurap, duduk, merangkak, duduk berlutut, duduk, duduk setengaj berlutut dan berdiri.

3. Membantu mengupayakan kesejajaran tubuh yg tepat:
Membangun kesejajaran base of support tubuh simetris yg tepat di setiap tahapan tumbuh kembangnya. Jika anda tengah mengupayakan posisi duduk, pastikan pelvis berada pd posisi netral. Jika anda tengah mengupayakan posisi berdiri, pastikan telapak kaki sejajar dan beban tubuh berada pd permukaan sokongan agar membantu perkembangan otot secara fungsional dan membantu menghilangkan potensi kompensasi otot.


4. Menilai input
Cobalah untuk mengagetkan anak dengan gerakan kejut, jangan mendorong atau menarik, dan biarkan anak mengaktifkan kinerja ototnya dan meminimalisir jatuh.


5. Kurangi sokongan perlahan-lahan
Mulailah dengan base of support proximal yg lebih tinggi saat menangani anak dan rendahkan perlahan saat anak meraih kontrol. Saat menangani kontrol postural, mulai dengan sokongan bahu atas/sendi bahu/ shoulder girdle dan mulailah merendahkan begitu anak mengaktifkan dan menguatkan, hingga mampu membuat anak meraih kemandirian fungsional.


6. Buatlah kegiatan itu fungsional
Fokus pd fungsi. Bicarakan pd keluarga yg merawat mengenai kebutuhan hariannya. Bantulah dengan kegiatan harian seperti berpakaian, beranjak pergi dari posisi duduk di kursi sekolah dan sebaliknya, bantulah perencanaan gerak baik secara praktikal dan prilaku yg bermanfaat.


7. Bertujuan meraih keberhasilan
Pecah kegiatan menjadi komponen yg mampu ia lakukan. Biarkan anak memiliki waktu yg tepat dan energi untuk melakukan suatu kegiatan. Jangan lupa berikan dukungan yg positif.


Ide-ide aktifitas menangani hypotonus
1. Gunakan bola terapi untuk:
-meningkatkan keinginan anak dan menginhibisi jatuh secara pasif dan melawan gravitasi.
- memfasilitasi kontrol motorik
- membantu kekuatan otot
- memfasilitasi transisi (perpindahan posisi)
- memberikan input vestibular
- melatih reaksi righting dan respon protektif

 Foto Dini Wisaksono.

 
2. Gunakan posisi tumbuh kembang
-tengkurap: gunakan pergerakan yg membuat anak mampu memindahkan beban tubuh secara simetris melalui upper extremitis (tangan, lengan dan bahu)
-dalam posisi merangkak: arahkan pd tekanan yg terukur melalui pelvis untuk memanjangkan tulang belakang untuk memancing penopang beban tubuh melalui bagian tubuh atas dan bawah ( dpt menggunakan foam roller) untuk memfasilitasi.

 Foto Dini Wisaksono.

3. Berlutut: menggunakan sokongan od pelvis untuk membantu anak memindahkan beban pd pusat gravitasi tubuh bagian bawah dan membantu perpindahan dari berlutut ke setengah berlutut tanpa menggunakan tubuh bagian atas:
-kursi berbentuk kubus sangat cocok sebagai penopang untuk melatih duduk berlutut.


4. Gunakan tekanan pd sendi
-menekan sendi, bila dilakukan secara tepat oleh tenaga medis yg terlatih mampu membantu meningkatkan aktifasi otot di sekitar sendi dan membantu anak menjaga sendi sejajar berlawanan dengan gravitasi.
-lakukan tekanan ps sendi yg sejajar dengan dibantu terapis (dari proximal ke distal(
-gunakan tekanan yg bergradasi untuk memperkirakan kerja sendi tanpa penekanan berlebihan dan distraksi sendi yg tergradasi untuk mensejajarkan sendi tanpa menekannya berlebihan.

 Foto Dini Wisaksono.

5. Gunakan pancingan taktil
-dengan fasilitasi otot yg sesuai selama intervensi terapis kita dpt membantu anak membangun kesadaran dan membantu awal dari produksi tekanan.
- input taktil dpt menyokong penyaruan pengaktifan otot yg menyokong sendi.
- pijatan lembut juga membantu menyokong aktifasi otot, meningkatkanbpertumbuhan otot dan mineralisasi pd anak hypotonus.

Foto Dini Wisaksono.

6. Upayakan permainan aktif
-permainan koordinasi bilateral(mengupayakan kedua sisi tubuh dan pergerakan koordinasi silang)
-musik adalah motivator yg paling bagus, egg shaker merupakan permainan yg sangat disukai di rumah kami.
-ketrampilan olahraga (aktifitas yg menyatukan koordinasi mata-tangan, meraih, berjongkok dan keseimbangan).
-gunakan halang rintang.
-bermain di dalam terowongan adalah cara yg mengasyikkan untuk membangun kekuatan, perencanaan gerak dan ketahanan.
-memanjat ke atas dan ke bawah(mentargetkan pd aktifasi otot cocentric dan eccentric)
-ini adalah langkah awal untuk melatih memanjat
- mengupayakan berdiri, merambat dan berjalan.
-kursi kubus memberikan permukaan yg baik untuk melatih berdiri dengan topangan.
-carilah aktifitas yg menarik, membuat mereka memusatkan oerhatian dan memotivasi. Baik itu renang, naik kuda, naik sepeda dan menari. Bermain secara aktif harus menjadi bagian dari seluruh kehidupan anak kita.


Disadur www.dinopt.com

Minggu, 26 Maret 2017




[Cemilan Rabu]


Materi 3 : Pentingnya meningkatkan kecerdasan anak demi kebahagiaan hidup


πŸ“πŸ‡ Cemilan Rabu #1 πŸ‡πŸ“

*Kecerdasan Menghadapi Tantangan*

Adversity Quotient atau Adversity Intelligence merupakan sebuah teori yang merumuskan tentang apa yang dibutuhkan untuk mencapai KESUKSESAN. Adversity Quotient dikembangkan oleh seorang konsultan bisnis yang dikenal secara internasional bernama Paul G. Stoltz, PhD. Menurut Stoltz, dengan AQ kita akan lebih produktif, kreatif, dan kompetitif walaupun kita berada di tengah lingkungan yang terus bergolak. AQ menggabungkan riset psikologis kognitif, psikoneuroimunologi, dan neurofisiologi untuk membentuk suatu gambaran lengkap tentang bagaimana cara manusia dalam mendekati kesulitan. Sementara pada kenyataannya, kesulitan adalah suatu hal yang paling banyak dihindari. Namun dalam AQ, kesulitan justru sebuah TANTANGAN yang akan menjadikan hidup lebih hidup.

AQ merupakan sebuah alat ukur yang akan menentukan beberapa kondisi kontradiktif dalam diri seseorang.
Kondisi kontradiktif tersebut adalah pilihan. Bagi mereka yang berharap sukses maka sikap-sikap positiflah yang pasti diambil. Sebaliknya, mereka yang tidak bertekad untuk berhasil, sangat wajar jika kemudian hanya berkutat pada kondisi statis, tidak mau bergerak, cepat merasa puas, dan hanya mampu berdiam diri ketika menghadapi kegagalan. 

Selanjutnya, kondisi kontradiktif tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita tentang sikap-sikap yang bisa membangun AQ berikut:
● Ketangguhan
● Keyakinan
● Kekuatan
● Kepercayaan Diri
● Berbesar Hati
● Daya Tahan
● Daya Juang
● Tak pernah bosan untuk mencoba
● Berani memulai
● Kreatif
● Optimisme
● Ketekunan
● Keuletan
● Vitalitas
● Orientasi masa depan
● Kaya akan berbagai kemungkinan

*Antara AQ dan Pendakian*
Pendakian adalah sebuah analogi cukup tegas bagi Adversity Quotient. Pendakian yang dimaksud adalah proses. Proses apa saja kira-kira?
1. Proses dari tidak ada menjadi ada
2. Proses dari tidak punya menjadi punya
3. Proses dari tidak bisa menjadi bisa
4. Proses dari sikap bergantung menuju kehidupan yang lebih mandiri
5. Proses dari sebuah harapan mewujud kenyataan
6. Proses dalam menggerakan tujuan hidup
7. Dan proses-proses lainnya.
Mendaki disini bukanlah mendaki sebuah gunung dalam arti denotatif, melainkan mendaki gunung kehidupan dengan segala hambatan dan rintangan. Mendaki gunung kehidupan yang kaya dengan liku-liku perjalanan. Mendaki gunung harapan dengan segala onak dan durinya. Mendaki gunung impian dengan segala bentuk upaya dan kesungguhan.

Stoltz menganalogikan tiga jenis kepribadian manusia yang bisa menggambarkan kemampuan AQ, yaitu Quitters (berhenti), Campers (berkemah), dan Climbers (pendaki).

*1. Quitters (Berhenti)*
Mereka yang disebut quitters adalah orang yang berhenti melakukan pendakian jauh sebelum menuju puncak atau bahkan menolak terhadap pendakian dan memutuskan untuk berdiam diri.
● menolak untuk mendaki lebih tinggi
● gaya hidupnya datar dan tidak 'lengkap'
● bekerja sekedar cukup untuk hidup
● cenderung menghindari tantangan berat yang muncul dari komitmen yang sesungguhnya
● jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati
● mereka cenderung melawan atau lari dalam menghadapi perubahan
● terampil menggunakan kata yang sifatnya membatasi, seperti 'tidakmau'
● kemampuannya kecil, tidak memiliki keyakinan akan masa depan, kontribusinya kecil

*2. Campers (Berkemah)*
Mereka yang disebut campers adalah orang yang menghentikan perjalanan (pendakian) dengan dalih ketidakmampuan atau sudah merasa cukup. Mereka beranggapan bahwa berhentinya pendakian adalah sebagai tanda telah dilakukannya berbagai upaya dan pengorbanan.
● mereka mau mendaki, meskipun akan 'berhenti' di pos tertentu dan merasa cukup sampai di situ
● mereka cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu
● masih memiliki sejumlah inisiatif, sedikit semangat dan beberapa usaha
● mengorbankan kemampuan individunya untuk mendapatkan kepuasan
● menahan diri terhadap perubahan
● menggunakan bahasa dan kata-kata yang kompromistis, misalnya 'ini cukup bagus'; 'cukup sampai di sini saja'
● meski sudah melalui berbagai rintangan, namun mereka akan erhenti juga pada suatu tempat dan 'berkemah' di situ

*3. Climbers (Pendaki)*
Mereka yang disebut climbers adalah orang yang terus bertahan melakukan pendakian sampai pendakian tersebut benar-benar menuju puncak. Mereka tidak menghiraukan lelah dan letih. Mereka juga tidak menghiraukan harta dan tenaga yang telah dikorbankan. Bagi mereka, totalitas dan komitmen adalah keniscayaan. Oleh karena itu, segala bentuk rintangan dan hambatan dinikmatinya sebagai tantangan yang akan mendongkrak dirinya untuk menjadi pahlawan yang sebenarnya.
● mereka membaktikan dirinya untuk terus 'mendaki', pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan
● hidupnya 'lengkap' karena telah melewati dan mengalami semua tahapan sebelumnya
● menyambut baik tantangan, memotivasi diri, memiliki semangat tinggi dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidup
● berani menjelajahi potensi-potensi tanpa batas
● menyambut baik setiap perubahan
● bahasa yang digunakan adalah bahasa dan kata yang penuh kemungkinan, berbicara tentang apa yang bisa dikerjakan dan caranya, berbicara tentang tindakan
● memberikan kontribusi besar karena bisa mewujudkan potensi yang ada pada dirinya
● tidak asing dengan situasi sulit
Kaitan AQ dengan pendakian, salah satu tugas utama kita sebagai orangtua adalah meyakinkan buah hati kita untuk mampu bertahan melewati semua tahapan kehidupan dengan segala problema dan dilematikanya. Selain itu, kita juga mampu meyakinkan kepada mereka bahwa segala sesuatu tidak bisa didapat secara instan. Segala sesuatu tidak terjadi secara tiba-tiba karena semua ada proses yang mengiringinya. 

Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
πŸ“š Sumber bacaan :
Yoga, Miarti. Adversity Quotient, agar anak tak gampang menyerah. Tinta Medina

πŸ“πŸ‡ Cemilan Rabu #2 πŸ‡πŸ“

29 Maret 2017


🏡POTENSI KECERDASAN ANAK UNTUK MERAIH KESUKSESAN HIDUP.
(Bagian 1)🏡

Sebelum ditemukannya ragam kecerdasan (IQ, EI,SI, dan AI), seorang anak dikatakan cerdas jika memiliki IQ yang tinggi. Sebaliknya anak dikatakan bodoh jika ber-IQ rendah.

*Kecerdasan Intelektual (IQ)*
adalah kecerdasan yang dimiliki oleh otak manusia untuk bisa melakukan beberapa kemampuan seperti, kemampuan menalar; merencanakan masalah; berpikir; memahami gagasan; dan belajar. 

Menurut Conny Setiawan dalam buku “Perspektif Pendidikan Anak Berbakat” ada tiga komponen penting yang dianggap esensi intelegensi, yakni penilaian, pengertian, dan penalaran.

Berkat kecerdasan intelektualnya, manusia telah mampu menjelajah ke bulan dan luar angkasa; menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang sangat membantu dan lain sebagainya. Namun, ketika IQ saja yang menjadi dasar seseorang bergerak, maka di samping ada kemajuan pesat buah dari kecerdasannya itu, terdapat pula banyak kerusakan muncul akibat dari ulah manusia.

Charles Spearmen, Thurstone, dan Gardner mengembangkan teori *multiple intelligence (MI)*yang mengukur kecerdasan tidak hanya dari satu aspek kemampuan. Teori MI ini lebih manusiawi karena intelegensi manusia diukur dari tujuh dimensi yang semi otonom. 
Masing-masing adalah : 
1) linguistik, 
2) music, 
3) Matematik Logis, 
4) Visual-Spasial, 
5) Kinestetik-Fisik, 
6) Sosial Interpersonal dan 
7) Intra-Personal. 

Seperti diungkapkan Suharsono dalam buku “Mencerdaskan Anak”, ketujuh macam kecerdasan ini merupakan fungsi dari dua belahan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki kemampuan dan potensi memecahkan problem matematik, logis dan fenomenal. Otak kanan memiliki kemampuan merespon hal-hal yang sifatnya kualitatif, artistic dan abstrak.

Apakah dengan mengoptimalkan ketujuh kecerdasan ini akan menjadikan anak-anak sukses mengarungi hidup? Jawabannya BELUM TENTU.
πŸ–ŒModel kecerdasan intelektual benar-benar akan bergfungsi hanya dalam tahapan ketika anak harus menyelesaikan permasalahan. Bahkan sejauh yang dapat diamati, model kecerdasan ini belum mendorong anak menjadi kreatif bahkan inovatif. 

Diperlukan upaya pendekatan yang berbeda agar anak menjadi lebih tertantang ide kreatif dan inovatifnya.

Daniel Goldman menawarkan pendekatan baru dalam memandang kecerdasan seseorang dengan mengenalkan *Kecerdasan Emosi* (emotional Intelligence) yakni kemampuan untuk mendeteksi dan mengenali emosi sendiri maupun orang lain. 

Menurut Suharsono, Perbedaan nyata antara IQ dan EI terutama pada hal “apa” yang menjadi objek kecerdasan itu sendiri. IQ lebih memandang objek-objek di luar diri manusia (out-ward klooking) sedangkan EI lebih memperhatikan fenomenal yang berada di dalam diri manusia (in-ward looking). 

Khairul Ummah (2003) menyatakan bahwa kunci sukses yang sebenarnya tidak lain adalah kemampuan memahami emosi diri dan emosi orang lain serta memanfaatkan interaksi emosional ini semaksimal mungkin untuk tujuan positif yang hendak dicapai bersama. 

Kecerdasan emosi penting untuk menangani situasi yang bermuatan emosi, suatu kondisi yang sering terjadi. Muatan dari emosi negatif serta dampak dari kepercayaan diri, keberanian dan kejujuran dapat diperoleh dengan baik melalui kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi merupakan faktor yang jelas mengatur pola kehidupan. Kecerdasan ini penting dalam pengelolaan emosi yang diperlukan hingga mampu membangun pola yang berhasil. Pengembangan kecerdasan emosi sangat penting bagi keberhasilan tingkah laku dan organisasi. Kecerdasan emosi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan hubungan di masyarakat. Kecerdasan ini juga dapat menghilangkan perasaan takut, cemas, dan marah yang bisa menghambat proses pengendalian emosi.

Pertanyaannya, apakah dengan berbekal IQ dan EI saja anak mampu meraih SUKSES??
πŸ“ŒBersambung ke part 2 (cemilan minggu depan)

πŸ“šReferensi:
Saifullah.A & Nine Adien MAulana, Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak, 2005, Yogyakarta: Ar-Ruz Media
https://tisna2008.wordpress.com/…/…/antara-iq-eq-dan-sq/amp/
πŸ’»Disusun oleh:
Tim Fasilitator Nasional Kelas Bunsay IIP