Sabtu, 01 April 2017

Foto Dini Wisaksono. 

sensori integrasi

Diambil dari FB Dini Wisaksono

Postingan kali ini bermaksud untuk memberikan latar belakang informasi penting yg berhubungan dengan sensori integrasi dan untuk membantu memahami pathopsikologis yg mendasari kelainan pengolahan sensori ( sensory processing disorder).

Sensory Modulation Disorder (kelainan modulasi sensori)
Sensori modulation disorder (kelainan modulasi sensori) merujuk pd kemampuan untuk mencocokkan prilaku dengan intensitas stimulus. 

3 subtipe dari sensory modulation disorder:
1. Sensory over responsitivity ( respon berlebih dari sensori)
Seorang anak yg mengalami sensory over responsivity akan terganggu dengab suara, sentuhan atau gerak pemicu.

2. Sensory Under Responsivity(kurangnya respon dari sensori)
Seorang anak yg mengalami sensory under responsivity mungkin tidak fokus/sadar akan sekelilingnya, contohnya tidak menoleh ketika namanya dipanggil atau ia mungkin tidak tahan berlama-lama duduk tegak.

3. Sensory seeking (pencari input sensori)
Anak yg mencari input sensori akan terus bergerak tidak bisa diam dan cenderung melompat, berbicara keras atau memasukkan benda ke dalam mulut.

Anak dengan hambatan modulasi sensori akan terlihat sangat mudah terpicu atau akan sangat lamban merespon dan ia akan nampak:
- Sangat mudah terpicu (high respond)-aktivitas tinggi.
Comtohnya ia akan cenderung menyerang dan berprilaku agresif.
- Sangat mudah terpicu (high respond)-aktifitas rendah.
Anak akan cenderubg menghindar, menarik diri atau menutup diri.
- Lamban terpicu (low respond)-tinggi aktivitas.
Anak cenderung mencari input sensori, berlari dab menabrakkan diri ke sana dan kemari.
-Lamban terpicu-rendah aktifitas.

Anak cenderung pasif.
Sensory Discrimination Disorder (Kelainan Memilah Sensory)
Kelainan dalam memilah input sensori adalah kemampuan membedakan antara sinyal sensori. Seorang anak dengan kelainan memilah sensori akan memuliki berbagai hambatan, contohnya ia tidak dpt mendengar apa yg diucapkan seseorang bila ada suara latar belakang yg berisik. Ia tidak mampu merasakan pensil di antara benda lain di meja atau tak mampu membedakan apakah ia bergerak atau diam, kecepatannya saat ia bergerak atau ke arah mana ia bergerak.

Sensory-Based Motor Disorders (Kelainan Gerak Yg dipicu sensori).
Kelainan motorik/gerak acapkali memilikivlatar belakang sensori yg mencerminkan kelainan yg dilatarbelakangi sistem proprioceptive dan vestibular. Sistem vestibular memberikan informasi pd keseimbangan dan pergerakan yg bereaksi terhadap perubahan pd daya tarik gravitasi. Sisten proprioceptive memberikan informasi dari otot, ligamen dan sendi yg berhubungan dengan posisi yg menghubungkan bagian tubuh dan daya/kekuatan yg dikeluarkan tubuh.

Anak dengan gangguan dyspraxia 
akan memiliki hambatan saat ia merencanakan dan mengukur aktifitas geraknya. Ia akan erlihat ceroboh atau menghindari aktifitas rutin harian yg melibatkan beberapa proses yg harus ia lakukan. Anak dengan kelainan postural akan menumpukan tubuhnya ke meja saat ia duduk dan ia akan mengalami hambatan saat ia mengkoordinasikan kedua mata, kedua tangan atau pergerakan tubuh bagian atas dan bawah.

Permasalahan kelainan pengolahan sensori (sensory processing disorder) berakar dari buruknya indera perasa akan keberadaan dirinya secara fisik (sentuhan dan proprioceptive) hingga mengakibatkan pd berkomprominya tubuh untuk mengatasi hal ini, karena dibutuhkan pemusatan fokus otak dan tubuh agar tubuh menyatu (fungsi batang otak). Ini artinya anak tidak akan siap menuju fungsi kortikal yg lebih tinggi dan ia akan siap jika kebutuhan subcorticalnya terpenuhi. Contohnya anak yg berada pd kondisi yg teratur, ia akan terus menubrukkan diri, selalu bergerak dan mata yg tidak fokus, tidak akan siap untuk menuju ke pembelajaran motorik halus atau untuk melakukan aktifitas wicara dasar dan aktifitas bahasa lainnya.

Dengan observasi dan menilai kondisi fisik anak kita dpt menentukan tipe input apa ygbakan membantu anak untuk mengatur dan memberikanb anak oerangkat yg dibutuhkan untuk fokus pd tingkatan kinerja agar ia mampu menguasai ketrampilan dan pembelajaran.

Anak dengan kelainan sensori integrasi cenderung bertindak pd tingkatan batang otak. Mereka akan menunjukkan reaksi primitif demi pertahanan dan perlindungan diri yg mengakibatkan tubuh berfungsi secara autopilot (otomatis) hingga membatasi fungsi dan proses belajar. Sangat penting bagi anak untuk merasa aman, terlindungi, nyaman dan percaya diri dalam setiap lingkungan pembelajaran karena kita tak mampu belajar jika dalam kondisi tertekan.

Input somato sensori tertentu dari sistem vestibular, proprioceptive dan taktil acapkali membantu tiap individu dengan hambatan pengolahan sensori untuk mempersiapkan diri mengolah informasi dan membantu membatasi perasaan terhujani oleh stimuli eksternal. Sensasi berbeda akan memberikan respon yg berbeda dan cenderung spesifik pd tiap individu. Namun secara umum pikirkan apa yg menenangkan atau mengatur seorang anak yg juga anda rasakan. Gerakan berirama, pergerakan linear, swaddling, dan pergerakan mulut akan memberikan input yg intense pd sistem somatosensory. Selain itu, saat kita kesal atau gelisah, pelukan erat dpt membuat kita merasa lebih baik sama halnya seperti pijatan yg enak atau olahraga. Aktifitas tersebut dpt menyatukan sensasi taktil, proprioceptive, dan vestibular. Sensasi ini dipercaya mampu memfasilitasi oelepasan kimiawi tertentu yg berefek pd neuromodulatory yg artinyabaktifitas itu dpt memfasilitasi atau menenangkan sinyal syaraf.

Disadur dari www.dinopt.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar